• Rabu, 1 Desember 2021

BPKPBI Tuntut Cabut UU Cipta Kerja Dalam Peringatan Kampanye 16 HAKTP

- Kamis, 25 November 2021 | 17:20 WIB
Aksi Penolakan UU Cipta Kerja (Supri Opa)
Aksi Penolakan UU Cipta Kerja (Supri Opa)

Betawipos, Jakarta- Barisan Perempuan Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (BPKPBI) menegaskan untuk merapatkan barisan dan melantangkan suara perlawanan untuk menuntut pencabutan Undang-Undang Cipta Kerja dan menerapkan upah layak dan setara Peraturan Pemerintah (PP) nomor 36 tahun 2021 dalam rangka peringatan kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP).

"Mari rapatkan barisan, lantangkan suara perlawanan untuk menuntut, Cabut UU Cipta Kerja dan PP 36/2021, dan terapkan upah layak dan setara untuk buruh perempuan," kata Barisan Perempuan Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia, Jumisih melalui surat elektronik yang diterima oleh Betawipos, Kamis (25/11/2021).

Menurut Jumisih, kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia.

Baca Juga: Baca Baik-baik, Ini Peraturan Soal Libur Nataru

Diawali serangkaian kampanye pada 25 November hingga tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. Dipilihnya rentang waktu tersebut adalah dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM.

Dalam sejarahnya dipilihnya 25 November sebagai awal kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan adalah untuk memberi penghormatan atas meninggalnya Mirabal bersaudara yaitu, Patria, Minerva dan Maria Teresa pada 1960.

Mirabal bersaudara adalah aktivis politik yang memperjuangkan demokrasi dan keadilan, serta menjadi simbol perlawanan terhadap kediktatoran peguasa Republik Dominika saat itu.

Baca Juga: Siswa Terbaik Indonesia Raih IOAA 2021

Patria, Minerva dan Maria Teresa berkali-kali mendapat tekanan dan penganiayaan. Kemudian mereka dibunuh secara keji oleh "kaki tangan" diktator Republik Dominika.

Halaman:

Editor: Supri Opa

Sumber: Liputan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bens Leo, Pengamat Musik Meninggal Dunia Karena Covid?

Senin, 29 November 2021 | 11:46 WIB

P3MB Desak Pemerintah Atasi Banjir Rob 'Land Subsidence'

Minggu, 28 November 2021 | 14:37 WIB

'Ini Babak Baru : Kasus Gajah Lawan Semut'

Jumat, 26 November 2021 | 15:47 WIB
X