• Selasa, 29 November 2022

Tokoh Agama Tolak Radikalisme

- Selasa, 27 September 2022 | 16:41 WIB

Betawipos, Jakarta-- Radikalisme telah terbukti merusak keharmonisan suatu negara, paham radikal tidak ubahnya seperti parasit, yang jika dibiarkan akan merusak. Sehingga keberadaan paham tersebut sudah semestinya tertolak dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketua Umum Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Palangka Raya yang juga Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palangka Raya, Sofyan Sori, secara tegas mengajak masyarakat di daerah setempat untuk menolak paham-paham radikal dan intoleran yang dapat mengganggu keamanan daerah.

Sofyan mengatakan, sebenarnya dalam Islam itu tidak ada yang namanya radikal, tetapi adanya adu domba dan dalam Islam sudah jelas dikatakan jika ada persoalan maka lakukan tabayyun, karena jika tidak tabayyun maka kemungkinan besar akan muncul radikalisme.

baca juga:

Munculnya radikalisme salah satunya disebabkan karena ketidakpahaman dalam Islam, sehingga Muhammadiyah dengan slogan Islam Berkemajuan, sudah pasti menolak munculnya paham radikal, intoleran dan terorisme ataupun ujaran kebencian yang dapat mengacaukan keamanan serta ketertiban dalam bermasyarakat.

Menurut Sofyan, bahwa radikalisme merupakan penyimpangan dan munculnya paham radikal tersebut di tengah masyarakat merupakan sebuah kesempitan atau ketidakpahaman, alias mengaku islam tapi tidak berperilaku Islam. Oleh karena itu, Muhammadiyah melalui pendidikan, pengajian dan kegiatan keagamaan lainnya, selalu mengajarkan Islam yang benar tanpa adanya radikalisme.

Sofyan membeberkan, bahwa Islam itu penyejuk, mendamaikan dan mensejahterakan. Tokoh agama memiliki peran penting dalam menolak paham radikal, pasalna peran aktif tokoh agama dapat menjadi teladan yang baik untuk menyampaikan pesan-pesan kebhinekaan kepada masyarakat dalam rangka mewaspadai munculnya gerakan radikal di Indonesia.

Pada kesempatan berbeda, Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj memastikan bahwa tidak ada pondok pesantren Nahdlatul Ulama (NU) yang terkontaminasi paham radikal di Indonesia.

Menurutnya, paham radikal muncul disebabkan oleh pemahaman agama yang sempit dan kaku. Menurutnya, pemahaman agama yang sempit dan kaku tercipta karena pengetahuan yang sedikit. PBNU juga mendukung lahirnya UU Anti-Terorisme yang lebih tajam dan lebih mampu mengantisipasi potensi terjadinya aksi tindak pidana terorisme.

Halaman:

Editor: Pandu Wibowo

Sumber: Reportase

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Peresmian AMN Menjadi Era Baru Kebhinekaan

Selasa, 29 November 2022 | 19:36 WIB

AMN Potensial Mencetak Kader Pemimpin Bangsa

Selasa, 29 November 2022 | 19:20 WIB

Kepala BIN : Pembangunan AMN “Proyek” Bersama Bangsa

Selasa, 29 November 2022 | 17:20 WIB

BIN Bagikan Kasur untuk Penyintas Gempa Cianjur

Selasa, 29 November 2022 | 16:47 WIB

Sejumlah Pengamat dan Akademisi Dukung Pengesahan RKUHP

Selasa, 29 November 2022 | 12:45 WIB

Pembangunan IKN Berdampak Positif Pada Lingkungan

Selasa, 29 November 2022 | 12:19 WIB

BIN Bantu Penyintas Gempa Cianjur Lewati Masa Sulit

Selasa, 29 November 2022 | 11:36 WIB

AMN Wadah Pembentukan Karakter dan Kepemimpinan

Minggu, 27 November 2022 | 21:19 WIB
X