• Selasa, 29 November 2022

Cegah Radikalisme Sejak di Lingkungan Keluarga

- Kamis, 24 November 2022 | 06:42 WIB

Betawipos, Jakarta-- Radikalisme harus dicegah sejak dini, dari lingkungan terkecil yakni lingkungan keluarga. Penyebabnya karena keluarga merupakan lingkungan inti untuk membentuk kepribadian seseorang.

Ketika ada anggota kelompok radikal yang nekat menyerang di tempat umum, maka ia langsung ditangkap oleh aparat keamanan. Kemudian diadakan penyelidikan mengenai pendidikannya, lingkungannya, dan keluarganya. Namun dari beberapa kasus radikalisme dan terorisme, kebanyakan orang tua tidak tahu jika anaknya terjerat dalam kelompok teroris.

baca juga:

Padahal keluarga adalah pelindung pertama dari segala ajaran negatif, termasuk radikalisme dan terorisme. Jangan sampai masyarakat yang berstatus orang tua mengabaikan anaknya atau menganggap mereka baik-baik saja. Akan tetapi sang anak diam-diam bergabung dengan kelompok teroris dan merencanakan serangan serta pengeboman.

Tarwilah, Dosen Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, menyatakan bahwa upaya pemberantasan radikalisme memerlukan langkah yang komprehensif, berupa upaya preventif dan penanganan. Dalam konteks langkah preventif, lingkungan keluarga memegang peranan yang sangat penting untuk mencegah tumbuh dan berkembangnya bibit-bibit radikalisme.

Tarwilah melanjutkan, orang tua harus menjadi benteng utama yang melindungi anak-anaknya dari bahaya radikalisme. Berbagai aktivitas anak harus dalam pengawasan dan orang tua harus memantaunya. Jangan sampai mereka melakukan hal-hal negatif dan orang tua harus peka dalam mengasuh.

Dalam artian, langkah preventif bisa dilakukan agar anak tidak terjerumus dalam radikalisme dan terorisme. Masyarakat perlu memahami bahwa keluarga merupakan pelindung utama, dan jangan hanya membiarkan anak bermain seenaknya sendiri. Jika ada pengajaran dan pemantauan maka anak-anak akan paham betapa bahayanya kelompok teroris.

Langkah pertama untuk mencegah terorisme sejak di lingkungan keluarga adalah dengan memberi tahu apa itu terorisme dan radikalisme, sejarahnya, dan bahayanya. Jangan ditutup-tutupi karena anak harus paham dan mendapatkan pengertian yang benar. Jika mereka tahu sejarah terorisme maka akan mengerti mengapa paham ini dilarang di Indonesia, karena tidak sesuai dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kemudian, orang tua bisa mengawasi pergaulan anak-anaknya. Jangan sampai mereka terlalu sering keluar dengan teman-temannya dan lupa pulang, bahkan menginap berhari-hari. Walau anak sudah di usia remaja tetapi sampai usia 17 ia masih tanggungan ayah dan ibunya, jangan terlalu dibebaskan karena ia bisa terjebak pergaulan bebas dan kena rayu kelompok teroris dan radikal.

Halaman:

Editor: Pandu Wibowo

Sumber: Reportase

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Peresmian AMN Menjadi Era Baru Kebhinekaan

Selasa, 29 November 2022 | 19:36 WIB

AMN Potensial Mencetak Kader Pemimpin Bangsa

Selasa, 29 November 2022 | 19:20 WIB

Kepala BIN : Pembangunan AMN “Proyek” Bersama Bangsa

Selasa, 29 November 2022 | 17:20 WIB

BIN Bagikan Kasur untuk Penyintas Gempa Cianjur

Selasa, 29 November 2022 | 16:47 WIB

Sejumlah Pengamat dan Akademisi Dukung Pengesahan RKUHP

Selasa, 29 November 2022 | 12:45 WIB

Pembangunan IKN Berdampak Positif Pada Lingkungan

Selasa, 29 November 2022 | 12:19 WIB

BIN Bantu Penyintas Gempa Cianjur Lewati Masa Sulit

Selasa, 29 November 2022 | 11:36 WIB

AMN Wadah Pembentukan Karakter dan Kepemimpinan

Minggu, 27 November 2022 | 21:19 WIB
X