• Jumat, 27 Mei 2022

Pemerintah Meningkatkan Perekonomian Lokal di Aceh

- Sabtu, 22 Januari 2022 | 15:54 WIB
Pembeli dan penjual bertransaksi di los sembako Pasar Bandarjo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Rabu (3/6). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat melonjaknya harga sejumlah komoditas pangan jelang Ramadhan menyebabkan inflasi Mei 2015 di Jawa Tengah mencapai sebesar 0,51 persen dengan penyumbang terbesar, antara lain dari komoditas bawang merah, cabai merah, teluar ayam ras, daging ayam ras, dan bawang putih. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/Rei/hp/15. (ADITYA PRADANA PUTRA)
Pembeli dan penjual bertransaksi di los sembako Pasar Bandarjo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Rabu (3/6). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat melonjaknya harga sejumlah komoditas pangan jelang Ramadhan menyebabkan inflasi Mei 2015 di Jawa Tengah mencapai sebesar 0,51 persen dengan penyumbang terbesar, antara lain dari komoditas bawang merah, cabai merah, teluar ayam ras, daging ayam ras, dan bawang putih. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/Rei/hp/15. (ADITYA PRADANA PUTRA)

Foto: Geliat Perekonomian Lokal Aceh

 

 

Daerah Istimewa Aceh memiliki banyak potensi sumber daya alam, di antaranya hasil bumi seperti kopi dan minyak atsiri. Pemerintah pun berkomitmen untuk meningkatkan perekonomian di Aceh jauh lebih baik agar rakyatnya makin makmur.

Aceh adalah provinsi yang memiliki status daerah istimewa dan seperti di Papua, mendapat dana otonomi khusus. Dana ini untuk pembangunan di sana, khususnya infrastruktur dan perekonomian. Diharap dengan uang ini maka masyarakatnya akan hidup lebih sejahtera.

Selama ini di Aceh masih ada ketimpangan dan pemerintah berusaha agar semua rakyatnya hidup makmur. Setelah diselidiki, ternyata kebanyakan di sana pekerjaannya masih di bidang pertanian dan perdagangan. Dari kedua bidang ini sebenarnya bisa diolah sehingga ditingkatkan lagi agar petani dan pedagang memiliki pendapatan yang jauh lebih banyak.

Petani di Aceh (yang rata-rata petani kopi) belum meningkat perekonomiannya, karena bisa jadi mereka masih memakai cara-cara tradisional. Oleh karena itu di sinilah peranan pemerintah sangat penting untuk membuat pelatihan dan bimbingan, misalnya memprediksi musim sehingga tidak terjadi gagal panen, memberikan bantuan alat pertanian modern, memberikan workshop marketing online, dll.

Para petani juga perlu diberi pelatihan untuk pengolahan kopi agar kualitasnya baik, bahkan bisa menembus pasar ekspor.Jika petani bisa mempraktikannya maka kita optimis perekonomian lokal di Aceh akan naik dan masyarakatnya bisa hidup dengan lebih sejahtera. Semua orang harus mengikuti zaman dan di era digital tidak bisa hanya menjual kopi ke pasar lokal, karena ada banyak peluang untuk ekspor melalui marketplace internasional.

Muhammad Iqbal STP, MM, Kepala Sub Bidang Pengembangan Industri, Perdagangan, dan Pariwisata Bappeda Aceh, menyatakan bahwa dibutuhkan industri manufaktur di tanah rencong. Tujuannya agar mengurangi pengangguran dan memakmurkan rakyat. Industri manufaktur amat pas karena rata-rata padat karya alias membutuhkan banyak pegawai.

Halaman:

Editor: Pandu Wibowo

Tags

Terkini

Pemerintah Jamin Investasi Asing di Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 | 07:34 WIB

G20 Momentum Wujudkan Transisi Energi Nasional

Selasa, 24 Mei 2022 | 07:21 WIB

Pancasila Vaksin Efektif Mencegah Radikalisme

Senin, 23 Mei 2022 | 07:22 WIB

Pembukaan Ekspor CPO Sudah Tepat

Senin, 23 Mei 2022 | 07:17 WIB

Hentikan Demo, DOB Percepat Pembangunan Papua

Senin, 23 Mei 2022 | 07:14 WIB
X