• Jumat, 19 Agustus 2022

Ormas Keagamaan Ujung Tombak Menangkal Radikalisme

- Jumat, 25 Februari 2022 | 00:25 WIB

Ilustrasi: Ormas Keagamaan Tangkal Radikalisme

 

Radikalisme wajib dicegah agar tidak makin menggila penyebarannya. Ormas keagamaan bisa menjadi ujung tombak untuk menangkal ajaran berbahaya ini, karena mereka memiliki pengaruh yang besar di masyarakat.

Serangan dan pengeboman yang terjadi di Indonesia adalah akibat dari kelompok radikal dan teroris. Oleh karena itu radialisme terus diberantas oleh pemerintah, karena mereka melakukan kesalahan fatal, dengan melakukan tindak kekerasan, kriminal, dan intoleran. Radikalisme jika dibiarkan saja akan jadi berbahaya karena bisa memecah perdamaian di negeri ini.

Pemberantasan radikalisme menjadi fokus pemerintah. BNPT (Badan Nasional Pemberantasan Terorisme) sebagai lembaga resmi yang diberi tugas tersebut, terus berusaha agar radikalisme dihapuskan dari Indonesia.

Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid Direktur Pencegahan Badan Nasional Pemberantasan Terorisme menyatakan bahwa terorisme adalah gerakan politik kekuasaan dengan memanipulasi dan mempolitisi agama yang bertujuan mengganti ideologi negara dengan ideologi transnasional. Wataknya adalah intoleran terhadap perbedaan dan keberagaman, serta eksklusif terhadap perubahan.

Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid menambahkan, untuk memberantas radikalisme maka diperlukan peran Ormas keagamaan. Mereka bisa jadi ujung tombak pencegahan radikal terorisme dengan cara menggaungkan nasionalisme melalui pendekatan agama.

Dalam artian, sebuah Ormas keagamaan tak hanya berceramah tentang kewajiban manusia untuk salat, zakat, haji, sedekah, dll. Akan tetapi para ustad dan kiai yang tergabung dalam Ormas tersebut bisa memberi tema nasionalisme. Sehingga audience akan mendengar bahwa mencintai negeri adalah salah satu ciri umat beragama, dan rasa nasionalisme mereka akan lebih kuat.

Para ustad bisa berceramah tentang perjuangan kiai dan pemuka agama lain dalam perang kemerdekaan Indonesia, misalnya KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, dll. Mereka memberi contoh bahwa membela negara juga berpahala. Sedangkan saat ini cara untuk membela Indonesia ketika perang sudah usai adalah dengan mempertahankan rasa nasionalisme dan tidak mau ketika diajak berjihad.

Halaman:

Editor: Pandu Wibowo

Tags

Terkini

Pemerintah Jamin Investasi Asing di Indonesia

Selasa, 24 Mei 2022 | 07:34 WIB

G20 Momentum Wujudkan Transisi Energi Nasional

Selasa, 24 Mei 2022 | 07:21 WIB

Pancasila Vaksin Efektif Mencegah Radikalisme

Senin, 23 Mei 2022 | 07:22 WIB

Pembukaan Ekspor CPO Sudah Tepat

Senin, 23 Mei 2022 | 07:17 WIB

Hentikan Demo, DOB Percepat Pembangunan Papua

Senin, 23 Mei 2022 | 07:14 WIB
X