• Kamis, 7 Juli 2022

Rangkaian Mozaik Keindonesiaan dengan kesempatan pendidikan sektor perikanan

- Selasa, 1 Februari 2022 | 21:56 WIB

Betawipos, Jakarta - Luchy Sandra (22), anak nelayan musiman di Kabupaten Bangka Selatan (Basel), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dan berlatarbelakang keturunan Tionghoa serta beragama Khonghucu tapi mendapat tempat serta mengecap pendidikan usaha perikanan dengan biaya negara alias beasiswa full.

Setelah lulus dari SMKN Teknik Otomotif di Toboali, Basel, ia sempat merasa ragu seperti berada di persimpangan jalan untuk meneruskan pendidikan sampai tingkat universitas/sekolah tinggi.

 “Saya masuk SMK otomotif, karena tidak ada niat kuliah. Tapi kedua orang tua menentang dan sebaliknya mendorong saya untuk tetap lanjut. (keraguan) karena terbentur kondisi ekonomi keluarga,” Luchy mengatakan kepada Redaksi melalui sambungan telepon.

Baca Juga: Konstruksi connecting tanggul raksasa dibuat letter L untuk lindungi kampung nelayan

Di tengah suasana ragu, tiba-tiba ada yang menawarkan kesempatan kuliah di Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) Jl. Raya Pasar Minggu Jakarta Selatan. Apalagi tawaran tersebut juga dengan beasiswa full, dimana penerima bebas biaya pendidikan, perlengkapan, makan, penginapan dan fasilitas lain dari sejak mendaftar hingga lulus. Informasi tersebut datang dari salah satu alumni SMK yang berkuliah di Politeknik AUP di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Setelah mengikuti seleksi fisik dan wawancara, ia pun diterima sebagai taruna Program Studi Permesinan Perikanan. “Beasiswa full, syaratnya orang tuanya bekerja pada sektor usaha perikanan, termasuk nelayan musiman. Wali kelas yang menerangkan bahwa Papa saya betul seorang nelayan musiman. Papa berlayar menangkap ikan kalau ada musimnya,” katanya.

Sebagai nelayan musiman, Ayahnya hanya ikut melaut saat musim ikan tertentu atau saat pemilik kapal mengajaknya melaut. Jika tidak melaut, ayahnya menjadi buruh harian, dengan penghasilan yang tak menentu. Sementara sang ibu mengurus rumah tangga.

Baca Juga: Serunya Baksos Alumni Unair di Kampung Nelayan

Kondisi perekonomian Basel juga belum tumbuh sepesat kota-kota besar di pulau Jawa. Tingkat pertumbuhan ekonomi tahunan masih harus dipicu dan dipacu. Selain kesenjangan ruang dan ekonomi serta akses terhadap sumber daya alam belum diupayakan secara maksimal.

Halaman:

Editor: Supri Opa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bencana alam marak ,Alumni UB gelar seminar Hybrid

Selasa, 1 Maret 2022 | 15:34 WIB

UB Malang Kukuhkan 2 Profesor

Sabtu, 29 Januari 2022 | 08:21 WIB

Wapres beri apresiasi dalam dies natalis UB ke 59

Rabu, 5 Januari 2022 | 10:51 WIB
X