• Kamis, 7 Juli 2022

Tradisi-Tradisi Ekstrim di Bali, Nguyak Bangke Alias membawaJenasah Secara Ugal-Ugalan (2)

- Kamis, 18 November 2021 | 06:10 WIB
Tradisi Nguyak Bangke, membawa jenasah ke tempat prosesi Ngaben secara ugal-ugalan (Sidik Purwoko)
Tradisi Nguyak Bangke, membawa jenasah ke tempat prosesi Ngaben secara ugal-ugalan (Sidik Purwoko)

Betawipos, Karangasem - Tak kalah ekstrim dengan tradisi Mesbeh Bangke di Tampaksiring, salah satu Banjar ei Karangasem juga memiliki Tradisi Nguyak Bangke. Tradisi membawa jenasah secara serampangan ini masih digelar di Banjar Pegubugan Desa Duda Kabupaten Karangasem.

Baru-baru ini tayangan aplikasi Helo mempertontonkan serombongan warga banjar yang tengah mengusung salah satu jasad orang yang sudah meninggal. Uniknya, cara mengusung jenasah yang terbungkus kain putih itu dilakukan secara ugal-ugalan, berlarian kesana-kemari.

Kontan saja siapapun yang baru pertama kali menyaksikan mungkin akan menganggap warga tersebut brutal dan liar. Tapi bagi mereka, itulah yang namanya memegang teguh warisan tradisi leluhur.

Baca Juga: Tradisi-Tradisi Ekstrim di Bali, Mesbeh Bangke Alias Mencabik-Cabik Jenasah (1)

Nguyak Bangke atau Ngarap merupakan tradisi yang masih kental di Banjar Pegubugan Desa Duda.. Ini dilakukan dengan suka cita karena mereka percaya jika seseorang yang mati akan meninggalkan jasad kasarnya. Ia akan memasuki kehidupan lebih mulia dan menyatu dengan Ida Sang Hyang Widhi.

Menurut penglingsir atau orang yang dituakan di Banjar Pegubugan, tradisi ini sudah dilakukan sejak lama. Bahkan, dulu perjalanan ke setra atau tempat pemulasaran jenasah bisa menempuh hampir 3 sampai 4 jam meski hanya berjarak 500 meter dari Setra Pegubugan. Karena semeton atau saudara jenasah yang ngarap sampai masuk ke sawah dan kebun salak warga.  Bahkan tak jarang juga jenasah yang sudah dibesbes (dibungkus kain putih) sampai kelihatan mayatnya.

Sebelumnya, warga menggunakan Bade atau menara pembawa jenasah untuk mengusungnya. Namun ada juga jenasah yang dibawa menggunakan pepaga atau tandu menuju setra.  Namun tak jarang, bade yang digunakan hancur diuyak sebelum sampai di setra saking semangatnya.

Baca Juga: Gelar Khitanan Massal, PDIP Angkat Budaya Betawi

Itulah Tradisi yang masih kental di Banjar Pegubugan sampai sekarang. Meski sudah menjadi warisan leluhur, tradisi tersebut menjadi kontroversi di kalangan warga Bali sendiri. Ada yang menganggap tradisi tersebut merupakan budaya primitif yang tidak patut dilestarikan.

Halaman:

Editor: Sidik Purwoko

Sumber: Facebook, Instagram

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tradisi Dhidis atau Petan, Tradisi Bergosip Jaman Dulu

Senin, 13 Desember 2021 | 17:09 WIB

Kilas Balik Pekan Kebudayaan Nasional, Seperti Apa?

Kamis, 2 Desember 2021 | 10:43 WIB
X