• Kamis, 7 Juli 2022

Begini Keseruan Kodomo No Hi atau Perayaan Hari Anak di Jepang

- Rabu, 29 Desember 2021 | 13:41 WIB
Koinobori, atribut yang kerap menghiasi perayaan Tango no Sekku  (ist)
Koinobori, atribut yang kerap menghiasi perayaan Tango no Sekku (ist)

Betawipos - Hari Anak di berbagai negara kerap dirayakan dengan keseruan-keseruan yang berkesan bagi mereka. Seperti perayaan Kodomo no Hi (Hari Anak) yang dilakukan di Jepang.

Kodomo no Hi awalnya lebih dikenal sebagai Tango no Sekku (端午の節句) yakni perayaan tradisional Jepang yang diperingati setiap tanggal 5 Mei. Tango no Sekku merupakan hari untuk mendoakan pertumbuhan bayi laki-laki yang sehat.

Sebelum dikenal sebagai Kodomo no Hi, setiap keluarga yang memiliki anak laki-laki selalu memajang boneka berbaju zirah (Ningyou) dengan helm samurainya (Kabuto). Pada perayaan hari Tanggo no Sekku itu, para orangtua berharap anaknya kelak bisa sekuat dan setangguh tentara.

Baca Juga: Kaleidoskop KBRI Tokyo, Simak Poin-poin Penguatan Kerjasama Indonesia–Jepang untuk Pemulihan Ekonomi

Tango no Sekku sendiri dirasa kurang lengkap tanpa adanya Koinobori. Wujud Koinobori ini adalah layang-layang atau bendera berbentuk ikan koi. Umumnya, warga Jepang memasang Koinobori di depan rumah mereka setiap perayaan Tango no Sekku berlangsung.

Sementara salah satu hidangan terkenal yang disajikan saat Tango no Sekku adalah Kashiwamochi dan Chimaki. Kashiwamochi adalah kue beras berisi pasta kacang merah yang dibungkus dengan daun pohon Ek. Sedangkan, Chimaki merupakan makanan sejenis bakcang yang dibungkus dengan daun bambu, bentuknya menyerupai dumbek (jajanan khas Tuban).

Ada pula jeringau atau jenis tanaman yang berbentuk seperti semak atau rumput yang ditaruh dalam kolam mandi. Saat direndam dalam air panas, maka jeringau akan menguarkan aroma yang kuat.

Baca Juga: Ini Tips Mencegah Kebakaran Yang Mudah Dilakukan Warga di Pemukiman Padat Penduduk

Kata "端午 (tango)" bisa dipecah menjadi kata "端 (tan)" yang berarti "permulaan" dan "午 (go)" yang berarti "kuda" atau "bulan ke-5 dalam kalender shio". Jadi, kata "tango" secara harafiah berarti "hari kuda di permulaan bulan Mei". Konon, pada jaman dahulu orang Jepang menyebut hari-hari dalam seminggu dengan nama binatang.

Halaman:

Editor: Sidik Purwoko

Sumber: Reportase

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tradisi Dhidis atau Petan, Tradisi Bergosip Jaman Dulu

Senin, 13 Desember 2021 | 17:09 WIB

Kilas Balik Pekan Kebudayaan Nasional, Seperti Apa?

Kamis, 2 Desember 2021 | 10:43 WIB
X