• Kamis, 7 Juli 2022

Perayaan Imlek dulu dan sekarang, suasana sunyi senyap sampai motivasi mengabdi Bangsa dan Negara

- Minggu, 30 Januari 2022 | 21:28 WIB
Sekjen Indonesian Inbound Tour Leader Association (IINTLA) David Gunawan (Liu)
Sekjen Indonesian Inbound Tour Leader Association (IINTLA) David Gunawan (Liu)

Betawipos,Jakarta - Perayaan Imlek 2022 di tengah pandemic covid varian omicron bagi seorang David Gunawan, Sekjen Indonesian Inbound Tour Leader Association (IINTLA) tentunya tidak bisa disamakan dengan keadaan ‘sunyi senyap’ Imlek semasa rezim Orde Baru atau Orba (1966 – 1998). Kendatipun ancaman omicron masih ada, tapi beberapa keluarga Tionghoa Indonesia masih yakin bisa bersilaturahmi.

 “Kalau makan bersama, internal keluarga saja. Kalau dengan keluarga yang tinggalnya jauh, silaturahmi dengan video call saja. Suasananya tidak sunyi senyap, tetap meriah dengan protocol kesehatan,” kata David Gunawan.

Lain halnya dengan suasana Imlek semasa Orba, perayaan di bawah tekanan sehingga harus sunyi senyap. Artinya, perayaan Imlek tidak boleh jor-joran seperti sekarang. Mengingat, Pemerintahan semasa Orba menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) 14/1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Dalam aturan itu, mantan presiden ke II Republik Indonesia, alm. Soeharto menginstruksikan etnis Tionghoa yang merayakan pesta agama atau adat istiadat agar tidak mencolok di depan umum, tetapi dilakukan dalam lingkungan keluarga.

Baca Juga: Antisipasi Omicron Dengan Disiplin Prokes dan Vaksinasi

 “Semasa Orba, saya menghabiskan masa SD (sekolah dasar) sampai SMP (sekolah menengah pertama) di Taipeh (Taiwan). Saya sempat merayakan Imlek bersama sanak saudara, saya tinggal di apartment. Beberapa siswa dari Indonesia tinggal di apartment. Tapi sekembali ke Jakarta, saya SMA (sekolah menengah atas) di salah satu sekolah swasta. Suasananya jelas berbeda, sunyi senyap. Semua siswa harus tetap bersekolah seperti biasa. Kalau ada murid yang membolos, pasti kena hukuman,” kata laki-laki kelahiran 56 tahun yang lalu.

Sejak era presiden ke IV RI, alm. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, perayaan Imlek menjadi lebih terbuka. Karena Gus Dur mencabut Inpres 14/1967 dan sebaliknya menerbitkan Keppres 6/2000. Keppres tersebut menetapkan Hari Raya Imlek sebagai Libur Nasional.

“Sebetulnya, sejak era pak Habibie (presiden ke III RI), ibu Megawati (presiden ke V RI), pak SBY (presiden Susilo Bambang Yudhoyono; Oktober 2004 – Oktober 2014) dan pak Jokowi (Presiden ke VII RI, Oktober 2014 – sekarang) memberi andil untuk kebebasan menganut agama, kepercayaan, serta adat istiadat mereka, termasuk upacara keagamaan seperti Imlek,” kata anggota tim pemandu kunjungan delegasi Tiongkok dan Taiwan ke Indonesia (thn 2000 – sekarang) di bawah naungan Nusaraya.

Baca Juga: Probiotik Multistrain bisa berfungsi sebagai Antioksidan sebagai pencegah varian Omicron

Masyarakat khususnya Tionghoa lebih leluasa, mengingat filosofi Imlek juga bagian dari kegiatan silaturahmi, menjaga tapi persaudaraan dengan sanak saudara. Setelah era reformasi, berbagai kegiatan budaya Tionghoa, termasuk Imlek, Barongsai, Capgomeh, media (koran, majalah) berbahasa mandarin dibuka.

Halaman:

Editor: Supri Opa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tradisi Dhidis atau Petan, Tradisi Bergosip Jaman Dulu

Senin, 13 Desember 2021 | 17:09 WIB

Kilas Balik Pekan Kebudayaan Nasional, Seperti Apa?

Kamis, 2 Desember 2021 | 10:43 WIB
X